Kesibukan di Usia Tua Bikin Otak Tetap Tajam dan Daya Ingat Kuat

Ilustrasi: olahraga ringan bagi manula Ilustrasi: olahraga ringan bagi manula

Kita semua tentu ingin menjaga pikiran kita tetap tajam dan ingatan kita semakin kuat seiring bertambahnya usia. Jadi, apa yang bisa kita lakukan sekarang untuk mencegah penurunan kognitif di tahun-tahun berikutnya? Terlibat dalam latihan aerobik teratur selama setidaknya 30 menit sehari, lima hari seminggu, mungkin memiliki efek terbesar pada orang-orang dari segala usia.

Seiring berjalannya waktu, otak manusia akan mengalami penuaan dan penurunan fungsi. Namun, hal ini bisa diperlambat dan dicegah jika Anda rajin merawat dan membuat otak tetap aktif. Sebuah penelitian mengatakan bahwa salah satu cara terbaik menjaga otak tetap kuat dan awet muda adalah dengan tetap sibuk. Menjalani keseharian yang penuh aktivitas akan membuat otak terus bekerja dan aktif, bukan hanya secara fisik, namun juga mental.

Para peneliti menyimpulkan bahwa gaya hidup sibuk ternyata sangat penting bagi orang usia pertengahan dan lanjut usia. Para ilmuwan menduga, kesibukan akan meningkatkan kemampuan orang untuk mempelajari hal-hal baru saat mereka menghadapi situasi dan orang yang berbeda-beda. Selain itu, orang sibuk biasanya menerima informasi baru setiap hari sehingga membuat otak mereka selalu segar dengan hal-hal yang baru.

Para peneliti juga mencatat bahwa orang yang mempunyai kemampuan kognitif yang kuat memang cenderung lebih sibuk. Sayangnya, analisis ini tidak bisa menentukan secara pasti bahwa semata-mata kesibukan menyebabkan otak yang lebih sehat.

“Kami tentu saja benar-benar mempertimbangkan bahwa sangat sibuk memang bisa mencederai kemampuan kognitif,” ujar Direktur Riset di Center for Vital Longevity, The University of Texas di Dallas, Denise Park. “Pada intinya, data yang kami dapatkan menyimpulkan bahwa lebih banyak keuntungan sibuk daripada kerugiannya.”

Bukti meyakinkan lainnya juga menunjukkan bahwa diet ikan, minyak zaitun, alpukat, buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, biji-bijian, diet gaya Mediterania, dan konsumsi kunyit juga cukup bermanfaat. Penelitian terbaru dalam American Journal of Geriatric Psychiatry menemukan bahwa kandungan kurkumin yang ada di kunyit dapat mengurangi risiko kehilangan memori pada usia tua. Dengan demikian, kurkumin bisa dimanfaatkan untuk pencegahan penyakit Alzheimer. 

Ilustrasi: aktivitas manula

Ilustrasi: aktivitas manula

Peneliti dari Universitas California, Los Angeles menguji efek kurkumin pada penderita Alzheimer dan orang normal. Rupanya, pemberian suplemen kurkumin secara rutin dua kali sehari berdampak pada naiknya kemampuan kognitif selama satu setengah tahun. “Sesungguhnya, efek kurkumin tidak pasti. Setidaknya, zat ini mampu menekan risiko peradangan otak. Ini berhubungan dengan penyakit Alzheimer dan depresi berat,” kata Garry Small seperti yang dilansir dari Psychcentral.

Tetapi, bagaimana dengan kegiatan sosial dan mental, apakah mereka membantu? Penelitian sebelumnya secara meyakinkan menunjukkan bahwa orang tua yang terlibat dalam kegiatan sosial, memiliki sikap mental positif, dan bekerja untuk mempelajari hal-hal baru mempertahankan kemampuan kognitif mereka lebih lama daripada mereka yang terisolasi secara sosial, memiliki sikap negatif, dan tidak mencoba mempelajari hal-hal baru .

Namun, masih ada beberapa pertanyaan. Kapan waktu yang ideal untuk melakukan kegiatan ini, di usia paruh baya atau di kemudian hari? Apakah itu membantu untuk melakukan banyak kegiatan, atau apakah satu kegiatan sama baiknya dengan beberapa kegiatan? Dan, bagaimana dengan kegiatan mental umum lainnya, seperti membaca buku dan bermain game, apakah itu membantu juga?

Sebuah studi baru-baru ini dilakukan oleh para peneliti di Mayo Clinic, melibatkan 2.000 pria dan wanita yang secara kognitif normal berusia 70 tahun atau lebih selama sekitar lima tahun. Peserta mengisi survei mengenai keterlibatan mereka dalam lima kegiatan yang merangsang secara mental, yakni kegiatan sosial, membaca buku, bermain game, membuat kerajinan, dan menggunakan komputer, di usia paruh baya (antara usia 50 hingga 65 tahun) dan di usia lanjut (usia 70 atau 70 tahun ke atas). 

Para peneliti juga melakukan evaluasi tatap muka setiap 15 bulan. Evaluasi-evaluasi ini termasuk wawancara dan tes neurologis, sejarah terperinci kemampuan mereka di rumah dan di masyarakat, dan pengujian neuropsikologis untuk memori, bahasa, keterampilan visuospatial, perhatian, dan fungsi eksekutif.

Ilustrasi: aktivitas menyenangkan bagi manula

Ilustrasi: aktivitas menyenangkan bagi manula

Ketika studi berakhir, para peneliti melihat apakah peserta tetap normal secara kognitif atau mengembangkan gangguan kognitif ringan (MCI). MCI didiagnosis ketika kekhawatiran tentang pemikiran dan memori seseorang dikonfirmasi oleh pengujian yang menunjukkan gangguan pada satu atau lebih tes berpikir dan memori. Namun, fungsi sehari-hari pada dasarnya normal, dan orang itu tidak gila.

Melalui studi ini, setidaknya menghasilkan beberapa temuan penting, yakni: 

  • Terlibat dalam dua, tiga, empat, atau lima aktivitas yang merangsang mental di usia senja berkorelasi dengan risiko yang lebih rendah untuk pengembangan MCI. Tren menunjukkan bahwa sejumlah besar kegiatan dikaitkan dengan pengurangan risiko yang lebih besar.
  • Tiga kegiatan, yakni penggunaan komputer, kegiatan sosial, dan permainan, memiliki manfaat ketika dilakukan, baik di usia paruh baya maupun di usia lanjut. 
  • Membaca buku ternyata tidak menunjukkan manfaat.

Nah, yang harus digarisbawahi dalam penelitian ini, jika kita ingin membuat pikiran kita tajam dan ingatan kita kuat, bukti menunjukkan bahwa ada banyak yang bisa kita lakukan hari ini. Kita dapat melakukan latihan aerobik secara teratur. Kita bisa makan makanan bergaya Mediterania. Kita dapat bekerja untuk mempelajari hal-hal baru dan menjaga sikap mental yang positif. 

Dan terakhir, dengan anggukan pada penelitian baru ini, kita dapat melakukan kegiatan sosial, bermain game, dan menggunakan komputer di usia paruh baya dan seterusnya, dan terlibat dalam kerajinan tangan di usia senja. Buku, di sisi lain, harus tetap dibaca setiap kali kita mencari pengetahuan, kebijaksanaan, pencerahan, atau kesenangan.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: