Akibat Dari Tindakan Diskriminasi Sosial

penyandang, disabilitas, kaum, wanita, di, Indonesia, anak-anak, remaja, kekhawatiran, stres, tekanan, sosial, diskriminasi, masyarakat, tindakan, warna, survei, penelitian, fisik, mental, kesehatan, keperilakuan, masalah, narkoba, depresi Ilustrasi: fenomena diskriminasi sosial karena kurangnya pengertian terhadap perbedaan

. Tindakan ini masih saja sering terjadi di beberapa negara. Jika dilihat dari pengertiannya menurut Kamus Bahasa Indonesia, berarti pembedaan perlakuan terhadap sesama negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya. Tindakan ini tentu menarik perhatian banyak orang, termasuk para peneliti dari berbagai negara.

Dapat diambil contoh yaitu para akademisi dari University of Southern California atau disingkat USC. Mereka melakukan sebuah riset terhadap tindakan diskriminasi sosial yang berdampak kepada kesehatan mental -anak.

Menjadi bagian dari kaum minoritas di Los Angeles, Amerika Serikat agaknya merupakan sesuatu yang kurang menguntungkan. Hal itu ditunjukkan dengan adanya peningkatan masalah keperilakuan, seperti dan penggunaan narkoba.

Penelitian dari USC mengungkapkan bahwa beberapa anak yang stres akibat tindakan diskriminasi menunjukkan peningkatan masalah . Penelitian ini berfokus kepada remaja yang ada di daerah Los Angeles, dari komunitas berdasarkan warna kulit atau dengan terbatas. Banyak pemuda melaporkan kekhawatiran mengenai diskriminasi, dan memandangnya sebagai masalah sosial yang sedang berkembang. Semakin besar rasa khawatir para remaja, maka semakin buruk penggunaan zat untuk mengatasi depresi dan gangguan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Penemuan itu merupakan sebuah potret di dalam pikiran remaja selama masa meningkatnya ketegangan politik AS dan kekhawatiran tentang meningkatnya diskriminasi di masyarakat. Hal ini juga bertepatan dengan permulaan kebijakan sosial baru yang diusulkan oleh anggota parlemen dari Trump, yang menurut para ilmuwan mungkin memengaruhi kesehatan mental anak-anak.

Para peneliti menyimpulkan bahwa meskipun antara keprihatinan diskriminasi sosial dengan hasil perilaku yang merugikan relatif sederhana, tetapi keduanya cukup signifikan pengaruhnya terhadap kesehatan sosial masyarakat, sehingga harusnya mendapat perhatian lebih besar. Penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di Keck School of Medicine di USC muncul di JAMA Pediatrics.

Efek Diskriminasi Terhadap Anak-anak

Ilustrasi: diskriminasi terhadap anak (sumber: mintpressnews.com)

Remaja yang paling menderita akibat diskriminasi sosial merasa tertekan di lingkungan masyarakat. Menurut ketua penelitian, Adam Leventhal, mengatakan bahwa masalah keperilakuan akan semakin tumbuh seiring dengan pertumbuhan remaja itu. Hal ini terbukti benar bahkan untuk remaja yang jarang mengalami diskriminasi di komunitas mereka. Dampak polarisasi kebijakan sosial pada kesehatan mental perlu ditangani.

Skisma politik dan sosial di berbagai berita utama tidak mengabaikan kaum muda. Perkembangan terbaru membentuk persepsi orang dan berakibat terhadap kesehatan mental, termasuk insiden polisi terhadap kaum minoritas, larangan perjalanan ke negara-negara tertentu, kebencian terhadap suatu agama, dan pernikahan sesama jenis.

Perhatian terhadap diskriminasi mungkin akan membuat kaum muda akan merasa tertekan di puncak kedewasaannya, merasa terganggu, putus asa, khususnya untuk orang yang berbeda warna kulit. Perbedaan warna kulit pada negara tertentu bisa menjadi alasan diskriminasi.

Untuk mengukur bagaimana respons kaum muda, para peneliti menyelidiki tingkat keprihatinan tentang diskriminasi di masyarakat seperti yang dilaporkan oleh 2.572 siswa kelas 11 (2 SMA) di 10 sekolah menengah negeri di LA County pada tahun 2016. Setelah survei, peneliti melacak seberapa besar perhatian meningkat pada tahun 2016-2017 dan bagaimana perwujudan masalah perilaku pada kelas 12 (3 SMA).

Para peneliti meminta siswa untuk menanggapi survei yang mengukur tingkat kepedulian, kekhawatiran, dan stres mereka tentang diskriminasi pada skala lima tingkat yang berkisar dari ‘tidak sama sekali’ sampai ‘sangat prihatin’. Proporsi responden laki-laki dan perempuan kira-kira sama jumlahnya. Latinos memiliki sekitar 47 persen dari ukuran sampel, Asia 19 persen, kulit putih 17 persen dan Afrika-Amerika 4 persen.

Dampak Dari Diskriminasi Sosial

Kepedulian terhadap masalah diskriminasi sosial meningkat. Para ilmuwan menemukan bahwa pada awal penelitian yaitu tahun 2016, sebanyak 29,7 persen remaja merasa sangat khawatir tentang diskriminasi sosial. Angka itu bertambah menjadi 34,7 persen satu tahun setelahnya, terutama untuk kaum minoritas. Peneliti juga menemukan hubungan yang signifikan antara peningkatan tingkat kepedulian tentang diskriminasi dan hasil perilaku merugikan.

Ilustrasi: diskriminasi dalam pergaulan (sumber: psychologenie.com)

Dalam beberapa kasus, asosiasi tersebut terlihat lebih kuat di kalangan minoritas atau remaja yang kurang beruntung secara sosial dan ekonomi. Misalnya, remaja dengan orang tua yang pendidikannya kurang, di mana kondisi ini memungkinkan orang tua tidak begitu peduli terhadap diskriminasi sosial pada tahun 2016, tetapi menjadi sangat khawatir di tahun 2017. Dampak dari rasa khawatir itu malah digunakan remaja untuk menggunakan marijuana atau konsumsi minuman beralkohol.

Leventhal mengatakan bahwa kepedulian, kekhawatiran dan stres yang dikaitkan dengan peningkatan diskriminasi sosial selama periode sosio-politis adalah bersifat umum dan terkait dengan hasil perilaku yang merugikan dalam kelompok remaja.

Diskriminasi sosial tidak hanya terjadi pada anak-anak atau kaum remaja, tetapi juga pada penyandang disabilitas. Dikarenakan penampilan kaum disabilitas yang berbeda, mereka menjadi lebih sering mendapatkan tindakan kurang menyenangkan.

Di Indonesia, contohnya di Kabupaten Sleman. Ada sekitar 10.268 orang yang menyandang disabilitas. Khusus untuk kaum wanita, mereka selalu berada di posisi lebih buruk dari segi pendidikan, pekerjaan, serta akses publik.

Menurut Nuning dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI), mengatakan bahwa diskriminasi yang diderita para wanita penyandang disabilitas disebabkan oleh putusnya hubungan antara masyarakat dengan individual penyandang disabilitas. UU yang ada selama ini, semangatnya dinilai hanya sekadar charity atau amal, seolah kalau sudah dibantu, masalah sudah selesai. Hal ini malah menyebabkan penyandang disabilitas masuk ke kategori eksklusif, tidak berinteraksi dengan masyarakat. Bahkan, ada beberapa penyandang disabilitas tidak diperbolehkan oleh keluarganya untuk beraktivitas di luar rumah.

Tindakan mengisolasi penyandang disabilitas dari lingkungan luar dapat menyebabkan kaum itu tidak kreatif maupun produktif secara ekonomi. Perlu diketahui, disabilitas dapat ditemui dalam aspek fisik, mental, intelektual, dan sensorik.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*


%d blogger menyukai ini: